Kabupaten Lampung Barat adalah salah satu
kabupaten di
provinsi Lampung,
Indonesia.
Ibu kota kabupaten ini terletak di
Liwa. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1991 tanggal
16 Agustus 1991 yang merupakan hasil pemekaran dari
Kabupaten Lampung Utara. Saat ini Bupati Kabupaten Lampung Barat adalah Drs. Mukhlis Basri dan Wakilnya Drs. Hi. Dimyati Amin, MM.
[5]
Kabupaten ini dominan dengan perbukitan dengan pantai di sepanjang
pesisir barat Lampung. Daerah pegunungan yang merupakan punggung Bukit
Barisan, ditempati oleh vulkanik quarter dari beberapa formasi. Daerah
ini berada pada ketinggian 50 - > 1000 mdpl. Daerah ini dilalui oleh
sesar Semangka, dengan lebar zona sebesar ± 20 Km. Pada beberapa tempat
dijumpai beberapa aktivitas vulkanik dan pemunculan panas bumi.
Geografi dan pembagian administratif
Lambang Kabupaten Lampung Barat yang lama
Dengan luas wilayah lebih kurang 3.368,14 km² Setelah pemekaran
Kabupaten Pesisir Barat
atau 10,6 % dari luas wilayah Provinsi Lampung dan mempunyai garis
pantai sepanjang 260 km. Lampung Barat terletak pada koordinat 4
o,47',16" - 5
o,56',42" lintang selatan dan 103
o,35',08" - 104
o,33',51" Bujur Timur.
Demografi
Hasil Sensus 2010, penduduk Kabupaten Lampung Barat berjumlah 419.037
jiwa yang terdiri atas 222.605 jiwa laki-laki dan 196.432 jiwa
perempuan.
Wilayah Lampung Barat berbatasan dengan:
- Sebelah Utara: Kab. Kaur (Provinsi Bengkulu),
- Sebelah Selatan: Samudera Hindia dan Teluk Semangka,
- Sebelah Barat: Samudera Hindia,
- Sebelah Timur: Kab. Lampung Utara, Kab. Way Kanan, dan Kab. Tanggamus.
Sejarah
Kabupaten Lampung Barat adalah salah satu pemekaran dari
Lampung Utara,
yang beribu kota di Liwa. Pemilihan Liwa sebagai Ibu Kota Kabupaten
Lampung Barat memang tepat. Beberapa alasan memperkuat pernyataan ini
adalah:
- Tempatnya strategis karena berada di tengah-tengah wilayah Lampung
Barat, sehingga untuk melakukan pengawasan terhadap seluruh daerah
Lampung Barat oleh pemerintah kabupaten akan relatif efektif
- Liwa merupakan persimpangan lalu lintas jalan darat dari berbagai arah yaitu Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung
sendiri. Tentang asal-usul nama Liwa, menurut cerita orang, berasal
dari kata-kata "meli iwa" (bahasa Lampung), artinya membeli ikan. Konon
dahulunya Liwa merupakan daerah yang subur, persawahan yang luas,
sehingga hasil pertaniannya melimpah. Liwa juga nama salah satu marga
dari 84 marga di Lampung.[6]
Sekala Beghak, Asal Muasal
Sekala Beghak (biasa ditulis Skala Brak), adalah kawasan yang sampai
kini dapat disaksikan warisan peradabannya. Kawasan ini boleh dibilang
kawasan yang “sudah hidup” sejak masa prasejarah. Batu-batu menhir
mensitus dan tersebar di sejumlah titik di Lampung Barat. Bukti, ada
tanda kehidupan menyejarah.
Sebuah batu prasasti di Bunuk Tenuar, Liwa berangka tahun 966 Saka
atau tahun 1074 Masehi, menunjukkan ada jejak Hindu di kawasan tersebut.
Bahkan di tengah rimba ditemukan bekas parit dan jalan Zaman Hindu. Ada
lagi disebut-sebut bahwa Kenali yang dikenal sekarang sebagai Ibu Kota
Kecamatan Belunguh, adalah bekas kerajaan bernama “Kendali” dengan “Raja
Sapalananlinda” sebagaimana disebut dalam “Kitab Tiongkok Kuno”. Kata
“Sapalananlinda” oleh L. C. Westenenk ditafsir sebagai berasal dari kata
“Sribaginda” dalam pengucapan dan telinga orang Cina. Jadi bukan nama
orang tapi gelar penyebutan. Buku itu konon juga menyebut, bahwa Kendali
itu berada di antara Jawa dan Siam-Kamboja. Kitab itu, menyebut angka
tahun antara 454–464 Masehi. Kitab ini telah disalin ke dalam bahasa
Inggris oleh Groenevelt (Wikipedia Indonesia, 2007).
Meski belum seluruhnya terbaca, namun dapat disimpulkan: di situ
tercatat suatu peradaban panjang. Suatu kawasan tua yang mencatatkan
diri dalam sejarah umat manusia. Di wilayah ini pula pernah berdiri
sebuah kerajaan. Ada yang menyebut kerajaan tersebut adalah Kerajaan
Tulang Bawang, namun bukti-bukti keberadaannya sulit ditemukan. Sedang
keyakinan yang terus hidup dan dipertahankan masyarakat khususnya di
Lampung Barat serta keturunan mereka yang tersebar hingga seluruh
wilayah Sumatera Selatan, menyebutkan Kerajaan Sekala Beghak. Pendapat
ini juga disokong oleh keberadaan para raja yang bergelar Sai Batin,
hingga bukti-bukti bangunan dan alat-alat kebesaran kerajaan, upacara,
dan seni tradisi yang masih terjaga. Masih banyak bukti lain, namun
perlu pembahasan terpisah.
Kalau membaca peta Provinsi Lampung sekarang, kisaran lokasi pusat
Sekala Beghak berada di hampir seluruh wilayah Kabupaten Lampung Barat,
sebagian Kecamatan Banding Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi
Sumatera Selatan. “Pusat kerajaan” meliputi daerah pegunungan di lereng
Gunung Pesagi di daerah Liwa, seputar Kecamatan Batu Brak, Kecamatan
Sukau, Kecamatan Belalau, dan Kecamatan Balik Bukit.
Sebagai kesatuan politik Kerajaan Sekala Beghak telah berakhir.
Tetapi, sebagai kesatuan budaya (cultural based) keberadaannya
turun-temurun diwarisi melalui sejarah panjang yang menggurat kuat dan
terbaca makna-maknanya hingga saat ini. Sekala Beghak dalam gelaran peta
Tanah Lampung, pastilah tertoreh warna tegas, termasuk sebaran pengaruh
kebudayaannya sampai saat ini.
Tata kehidupan berbasis adat tradisi Sekala Beghak juga masih
dipertahankan dan dikembangkan. Terutama, Sekala Beghak setelah dalam
pengaruh “Empat Umpu” penyebar agama Islam dan lahirnya masyarakat adat
Sai Batin. Adat dan tradisi terus diacu dalam tata hidup keseharian
masyarakat pendukungnya dan dapat menjadi salah satu sumber inspirasi
dan motivasi pengembangan nilai budaya bangsa.
Hasil pembacaan atas segala yang ada dalam masyarakat berkebudayaan
Sai Batin di Lampung, memperlihatkan kedudukan dan posisi penting Sekala
Beghak sebagai satuan peradaban yang lengkap dan terwariskan.
Keberadaan Sekala Beghak tampak sangat benderang dalam peta kebudayaan
Sai Batin, sebagai satu tiang sangga utama pembangun masyarakat Lampung.
Bahkan, telah diakui, Sekala Beghak sebagai cikal bakal atau asal
muasal tertua leluhur “orang Lampung”. Bahkan keberadaan Sekala Beghak,
berada dalam kisaran waktu strategis perubahan peradaban besar di
Nusantara, dari Hindu ke Islam.
Seperti dikutip Harian KOMPAS, (11 Desember 2006:36), pada abad 15
datang empat kelompok masyarakat yang menduduki sekitar Danau Ranau. Di
sebelah barat danau dihuni orang-orang yang datang dari Pagaruyung
Sumatera Barat dipimpin Dipati Alam Padang. Sementara itu, tiga kelompok
lainnya berasal dari Sekala Beghak. Tiga kelompok orang-orang Sekala
Beghak itu dipimpin Raja Singa Jukhu (dari Kepaksian Bejalan Diway),
menempati sisi timur danau. Di sisi timur danau pula, kelompok yang
dipimpin Pangeran Liang Batu dan Pahlawan Sawangan (berasal dari
Kepaksian Nyekhupa) bertempat. Sementara kelompok yang dipimpin Umpu
Sijadi Helau menempati sisi utara danau. Empu Sijadi Helau yang
disebut-sebut itu bukan Umpu Jadi putra Ratu Buay Pernong, yang menjadi
pewaris takhta Buay Pernong. Kemungkinan besar Umpu Sijadi di daerah
Ranau tersebut adalah keturunan Kepaksian Pernong yang meninggalkan
Kepaksian dan mendirikan negeri baru di Tenumbang kemudian menjadi Marga
Tenumbang.
Ketiga kelompok dari Sekala Beghak ini kemudian berbaur dan menempati
kawasan Banding Agung, Pematang Ribu, dan Warkuk. Sampai sekarang
banyak orang Banding Agung mengaku keturunan Paksi Pak Sekala Beghak. Di
samping itu, ada kisah-kisah perpindahan orang Sekala Beghak,
sebagaimana ditulis dalam Wikipedia (7/3/07: 04.02), yang dipimpin
Pangeran Tongkok Podang, Puyan Rakian, Puyang Nayan Sakti, Puyang Naga
Berisang, Ratu Pikulun Siba, Adipati Raja Ngandum, dan sebagainya.
Bahkan, daerah Cikoneng di Banten ada daerah yang diberikan kepada Umpu
Junjungan Sakti dari Kepaksian Belunguh atas jasa-jasanya, dan banyak
orang Sekala Beghak yang migrasi ke sana atau sebaliknya. Kisah-kisah
ini memperkuat suatu kenyataan bahwa Sekala Beghak tidak hanya sebagai
sumber muasal secara geografis, melainkan juga sumber kultur masyarakat.
Sekala Beghak adalah hulu suatu kebudayaan masyarakat. Dari Sekala
Beghak ini juga lahir huruf Lampung yaitu Kaganga. Bagi sebuah
kebudayaan, memiliki bahasa dan aksara sendiri merupakan bukti kebesaran
masa lalu kebudayaan tersebut. Di Indonesia hanya sedikit kebudayaan
yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak, Lampung (Sumatera Selatan),
Jawa, Sunda, Bali, dan Bugis. Dan kebudayaan yang memiliki aksara
sendiri dapat dikategorikan sebagai kebudayaan unggul. Karena bahasa
merupakan alat komunikasi sekaligus simbol kemajuan peradaban.
Semua aksara Nusantara tersebut berasal dari bahasa Palava, yang
berinduk pada bahasa Brahmi di India. Bahasa Palava digunakan di India
dan Asia Tenggara. Di Nusantara, bahasa ini mengalami penyebaran dan
pengembangan, bermula dari bahasa Kawi, sebagai induk bahasa Nusantara.
Dari bahasa Kawi menjadi bahasa: Jawa (Hanacaraka), Bali, Surat Batak,
Lampung/Sumatera Selatan (Kaganga), dan Bugis. Dari Kerajaan Sekala
Beghak yang telah memiliki unsur-unsur “kebudayaan lengkap” ini pulalah
“ideologi” Sai Batin dilahirkan dan disebarluaskan. Sampai saat ini,
masih banyak yang bisa dibaca dari jejak-jejak yang tertinggal. Baik
dari jejak fisik maupun jejak yang tidak kasat mata. Dari legenda, seni
budaya, adat tata cara, bahasa lisan tulisan, artefak benda peninggalan,
hingga falsafah hidup masih ada runut rujukannya. Dari Sekala Beghak
itu di kemudian hari pengaruh budaya dan peradabannya berkembang dan
berpengaruh luas ke seluruh Lampung bahkan sampai ke Komering di
Sumatera Selatan sekarang. Tidak terhitung kemudian “pendukung
budaya”-nya yang tersebar di seluruh Indonesia pada masa kini.
[7]
Sarana dan prasarana
Sarana Transportasi
Sarana transportasi dari dan menuju Lampung Barat serta daerah
pinggiran cukup banyak tersedia, seperti bus, angdes, mobil sewaan, dan
ojek. Kondisi sarana jalan hingga mencapai desa dalam kondisi baik aspal
split, dengan total panjang ruas jalan 416,95 km. Sarana laut
seperti kapal–kapal hanya digunakan untuk menangkap ikan dan sedikit
sekali untuk angkutan.
Lapangan Terbang Seray Pesisir Tengah (Krui)
Pembangunan Lapangan terbang Seray di Kecamatan Pesisir Tengah Krui
dimulai tahun 2006. Diproyeksikan pada tahun 2008, lapangan terbang yang
dapat didarati oleh pesawat Hercules ini sudah beroperasi. Selain
mengangkut berbagai produk Lampung Barat, lapangan terbang ini juga
untuk mengangkut wisatawan yang ingin menikmati berbagai objek wisata di
Lampung Barat.
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Bengkunat
Pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara Bengkunat sebagai Pelabuhan
Samudera untuk Kawasan Andalan Wilayah Barat Indonesia. Hal ini
dipersiapkan untuk menangkap peluang sehubungan dengan rencana
pembangunan pelabuhan samudera di Muara Karang yang dianggap kurang
sesuai untuk dikembangkan berdasarkan hasil analisis Departemen Kelautan
dan Perikanan. Dengan adanya Pelabuhan ini, akan semakin memantapkan
Lampung Barat sebagai daerah penghasil ikan berkualitas ekspor seperti
blue marlin, tuna, lobster, dan lain-lain.
Telekomunikasi, Kantor Pos
Kondisi layanan telekomunikasi dan informasi di wilayah Kabupaten
Lampung Barat tersedia telepon, telepon selular, telegram, ORARI,
televisi, radio, dan kantor pos.
Pasar
Kondisi pasar di wilayah Lampung Barat, tersedia sembilan pasar umum dan seratus dua buah toko permanen serta 143 semipermanen.
Hotel
Hotel yang tersedia di wilayah Lampung Barat sebanyak delapan belas
hotel tersebar di berbagai daerah kecamatan berdekatan dengan lokasi
wisata seperti Hotel Karang Nyimbur, Mutiara Alam Zandino, Wisma Sindai
Lapai, Sederhana, Gunung Putri, dan Hotel Permata.
Bank dan Rumah Sakit
Di Kabupaten Lampung Barat terdapat tiga buah bank besar seperti Bank
Lampung Capem Liwa, BNI Capem Liwa, BRI Capem Liwa, beberapa lembaga
keuangan BPR, serta Rumah Sakit Umum daerah Lampung Barat.
Industri dan Perdagangan
Kondisi geografis Lampung Barat yang terdiri dari pegunungan dan
perbukitan serta lautan yang luas menjadikan kabupaten ini memiliki
potensi sumber daya alam yang luar biasa melimpah. Mulai dari
pemandangan alamnya yang penuh pesona juga produk hasil pertanian,
perkebunan, dan kehutanan yang melimpah. Sumber daya alam ini sangat
potensial sebagai bahan baku industri dan jika dilakukan penanganan
pascapanen yang baik, dapat menjadi komoditas ekspor dalam bentuk bahan
mentah atau
raw material.
KUAT (Kawasan Usaha Agro Industri Terpadu)
Tahun 2007, Pemkab Lampung Barat membangun Kawasan Usaha Agro
Industri Terpadu (KUAT) di Pekon (Desa) Marang Kecamatan Pesisir
Selatan. KUAT dibangun untuk mengolah berbagai potensi di daerah pesisir
Lampung Barat seperti kelapa, perikanan, dan damar agar mempunyai nilai
tambah. Dengan demikian akan menambah penghasilan masyarakat. Karena
KUAT menjadikan masyarakat sebagai pemasok bahan baku utama. Kawasan
Industri Terpadu yang ingin diwujudkan adalah kawasan industri yang
mengelola bahan baku lokal potensial berwawasan lingkungan, yakni
industri pengolahan ikan terpadu dan industri pengolahan kelapa terpadu.
Tahap pertama yang menjadi fokus KUAT adalah pengolahan kelapa. Mulai
dari sabut hingga airnya akan menjadi produk bernilai tinggi. Adapun
komposisi dan produk turunan kelapa adalah untuk sabut kelapa, produk
turunannya adalah
coco fiber dan matras. Daging kelapa akan menjadi
desicated coconut, VCO
coconut oil,
dan biodesel, batok kelapa akan menjadi briket arang dan arang aktif,
sementara air kelapa akan menjadi nata de coco, kecap, dan cuka dapur.
Selain kelapa, yang menjadi produk KUAT adalah ikan segar dengan produk turunannya. Adapun produk turunan ikan segar adalah
filet
ikan yang menjadi bahan baku sosis ikan, bakso ikan, dan abon ikan.
Selain itu, ikan segar juga bisa menjadi ikan beku yang produk
turunannya adalah
fish nugget.
Potensi komoditas unggulan
Dodol tomat dan labu siam: Komoditas unggulan dari sektor
pertanian di antaranya tomat dan labu siam yang sangat berlimpah, dengan
luas areal 2.525 ha, dengan pemanfaatan lebih lanjut produk pertanian
ini menjadi makanan khas berupa dodol tomat dan labu siam yang terdapat
di Kecamatan Sekincau dan Balik Bukit.
Abon Ikan Tuna dan Blue Merlin: Salah satu produk olahan dari
hasil perikanan di Lampung Barat adalah abon ikan tuna dan blue merlin.
Sentra produksi abon terdapat di Pesisir Barat Kecamatan Bengkunat dan
di Pulau Pisang Kecamatan Pesisir Utara.
Kopi Stroberi: Kopi bubuk dengan aroma dan cita rasa khas merupakan produksi cenderamata yang cukup dikenal dari Lampung Barat.
Kue Adat/Kue Tart: Salah satu makanan khas Lampung Barat adalah kue
tart.
Kue ini ditampilkan pada saat acara resmi. Salah satu pengrajin kue ini
adalah perusahaan kue ”Dua Putri” di Kecamatan Balik Bukit.
Produk Kerajinan
Kain Tapis Krui: Kain Tapis Krui merupakan produk tekstil
tradisional Indonesia dengan kain dasar aslinya adalah kain yang
diproduksi dengan alat tenun gedogan/alat tenun bukan mesin yang
selanjutnya disulam dengan motif beronamen khas Lampung Barat.
Kerajinan Kayu Kelapa: Produk kerajinan kayu kelapa mulai
dikembangkan di Lampung Barat sejak tahun 2004. Produk kerajinan kayu
kelapa yang dikembangkan saat ini berupa alat perkantoran, alat rumah
tangga, dan lain-lain.
Pertanian
Dalam bidang pertanian khususnya holtikultura, Kabupaten Lampung
Barat merupakan salah satu kabupaten penghasil sayur mayur terbesar di
Provinsi Lampung. Ada empat kecamatan yang merupakan penghasil sayuran
terbesar di Kabupaten Lampung Barat, yaitu Kecamatan Way Tenong,
Sekincau, Balik Bukit, dan Sukau.
Keempat kecamatan ini telah menyuplai beberapa jenis sayuran antara
lain kentang, cabai merah, kubis, labu siam, tomat, wortel, buncis, dan
sawi dengan luas panen dan jumlah produksi makin meningkat dari tahun ke
tahun. Ditambah lagi dengan daya dukung dan perhatian Pemerintah
Kabupaten Lampung Barat begitu besar, sehingga Kabupaten Lampung Barat
mampu menjadi pendistribusi sayur-mayur ke daerah–daerah lain seperti
Bandar Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Padang, dan mulai
juga menyuplai sebagian Jabotabek.
Sebagai perwujudan dari slogan “LIWA KOTA BERBUNGA”, maka Pemerintah
Kabupaten Lampung Barat bekerja sama dengan IPB dan Balai Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Hias Departemen Pertanian melakukan pengembangan
Tanaman Hias. Hal ini didukung iklim dan tanah Lampung Barat yang sangat
cocok untuk pengembangan tanaman hias.
Lampung Barat memiliki klimatologi yang sesuai untuk budidaya
berbagai jenis tanaman hias. Wilayah kecamatan yang sesuai untuk
pengembangan tanaman hias meliputi Kecamatan Sumberjaya, Gedung Surian,
Way Tenong, Sekincau, Belalau, Batu Brak, Balik Bukit, dan Sukau dengan
luas ± 248.857 m²
Ke depan, Kabupaten Lampung Barat bertekad menjadi sentra tanaman
hias di Indonesia, adapun jenis tanaman yang telah/pernah ditanam antara
lain: anggrek, mawar,
helicona (pisang-pisangan), krisan, sedap malam, melati, palem, dan bugenvil, juga herbra.
Sebagai penghijauan, tanaman Paku Sura dipilih sebagai Maskot Tanaman
hias Lampung Barat, dan tanaman ini sudah banyak ditanam khususnya di
daerah Kecamatan Sukau dan Sumber Jaya.
Pariwisata
Kabupaten Lampung Barat merupakan salah satu Daerah Tujuan Wisata
(DTW) di Provinsi Lampung. Ini dapat dilihat dari banyaknya wisatawan
mancanegara maupun nusantara yang datang berkunjung untuk menikmati
berbagai objek wisata di Lampung Barat. Objek wisata di Lampung Barat
sangat lengkap mulai dari laut, danau, pegunungan, wisata alam, dan
wisata petualangan. Untuk pengembangan pariwisata di Lampung Barat,
pemerintah kabupaten terus melakukan berbagai upaya seperti penyediaan
sarana dan prasarana infrastruktur.
Kawasan Wisata Terpadu Lumbok Ranau (Seminung Lumbok Resort)
Keindahan Danau Ranau di Pekon Lumbok Kecamatan Sukau memang luar
biasa, demikian diungkapkan berbagai kalangan yang pernah berkunjung ke
Lumbok. Di tempat itu kita bisa menyaksikan hamparan biru danau dengan
latar belakang Gunung Seminung yang menjulang tinggi dan perbukitan
hijau. Wisatawan juga menikmati kehangatan air panas d ikaki Gunung
Seminung, berperahu, dan berpiknik bersama keluarga.
Untuk memanjakan wisatawan, Pemerintah Kabupaten Lampung Barat telah membangun berbagai sarana seperti fasilitas dua
cottage dengan kolam renang, hotel standar bintang 3 dengan enam belas kamar, restoran dan balai pertemuan atau
convention hall dengan kapasitas 30 orang di lantai dasar dan 400 orang di lantai atas.
Wisata Paralayang
Selain menikmati keindahan alam danau, wisatawan yang hobi olahraga
paralayang dapat melakukannya di sini. Kegiatan dirgantara paralayang
merupakan bagian atraksi wisata. Dari ketinggian sekitar 400 meter,
wisatawan dapat menikmati kontur alam yang begitu indah, Danau Ranau
yang dilingkupi oleh pegunungan yang tegak menjulang, salah satunya
Gunung Seminung serta areal persawahan yang membentang luas, sungguh
panorama alam yang menyejukkan hati. Wisatawan melakukan lepas landas
atau
take off di Bukit Mandi Angin, Pekon Lumbok, dengan ketinggian 400 meter dpl.
Site paralayang di Lumbok Ranau secara teknis sangat layak dan memiliki pemandangan alam yang lengkap.
Wisata Alam Pekon Hujung
Objek wisata di Pekon Hujung Kecamatan Belalau, di sini terdapat
Gunung tertinggi di Lampung Barat yaitu Gunung Pesagi, yang mana gunung
ini dijadikan sebagai wahana wisata atau wisata alam. Wisatawan, selain
berpetualang melakukan pendakian, dapat melihat keindahan alam dan
bahari Lampung Barat dari ketinggian gunung, di sini juga terdapat
homestay tradisional Lampung Barat yang dilengkapi dengan fasilitas yang memadai.
Wisata Alam Kubu Perahu
Lampung Barat memang tidak pernah habis. Satu lagi lokasi petualangan
alam yang sangat menantang, yakni wisata alam Kubu Perahu di Kecamatan
Balik Bukit. Di sini wisatawan dapat menikmati rimbunnya pohon-pohon
besar hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Lokasi ini
sangat cocok untuk kegiatan
jungle run. Wisatawan dapat menikmati
aliran sungai yang jernih disepanjang perjalanan menapaki hutan kawasan
TNBBS. Selain itu wisatawan juga dapat menikmati air terjun Sepapa Kiri
yang begitu jernih dan indah.
Desa Wisata Lumbok
Lampung Barat juga menyajikan wisata desa, dengan desa yang
dikunjungi masih sangat alami dengan suguhan pemandangan Danau Ranau, di
tempat ini para pengunjung dapat melakukan aktivitas yang cocok untuk
keluarga di antaranya: menombak ikan, memanah ikan, berenang, memancing
belut, dan aktivitas malam yang tak kalah serunya. Di Desa Lumbok yang
berjarak + 30 km dari
Liwa, pengelola kawasan ini menyediakan
homestay di rumah tradisional penduduk setempat dan menyajikan kuliner khas, seperti gulai taboh dan ikan bakar
Danau Suoh
Wisata alam ini menyajikan potensi wisata olahraga serta menjanjikan
pengalaman yang tak terlupakan, perjalanan ke lokasi yang hanya dapat
ditempuh dengan menggunakan kendaraan jenis
off road dan kendaran roda dua jenis
trail.
Di sini terdapat tiga buah danau yang berubah-ubah warnanya. Di kawasan
sekitar danau terdapat sumber panas bumi yang menambah keunikan dan
keistimewaan lokasi. Untuk menuju lokasi, dapat melalui Kecamatan
Sekincau atau Kecamatan Batu Brak dengan jarak tempuh 4 jam perjalanan
dari Ibu Kota Liwa. Juga dapat melalui Kecamatan Wonosobo,
Kabupaten Tanggamus.
Arung Jeram
Bagi Anda yang gemar olahraga arung jeram (
rafting), Lampung
Barat memiliki Sungai Way Besai. Di sungai yang terdapat di Kecamatan
Sumber Jaya ini wisatawan dapat menikmati lintasan jeram
grade III dengan jarak tempuh 3 km sehingga menjanjikan aktivitas yang menantang bagi para penggemar olahraga arung jeram.
Wisata Bahari
Objek wisata bahari terdapat di daerah pesisir Lampung Barat di antaranya:
- Pantai Tanjung Setia. Terletak di Pesisir Selatan, 52 km dari Liwa
potensi daya tarik yang ditawarkan adalah berselancar, berenang,
menyelam, berperahu, berlayar, snorkling, memancing, berjemur matahari, menyusuri pantai, mengumpulkan karang, dan fotografi.
- Pantai Labuhan Jukung
- Pantai labuhan jukung yang berlokasi di Pekon Kampung Jawa kecamatan, 35 km dari Liwa
- Pesisir Selatan
- Pantai Way Jambu. Terletak di Pesisir Selatan, 60 km dari Liwa
potensi daya tarik yang ditawarkan adalah berenang, menyelam, bersepeda,
selancar angin, berkemah, dan berjemur matahari.
- Pantai Way Sindi, Pesisir Tengah, 34 km dari Liwa
- Pantai Suka Negara, Bengkunat, 68 km dari Liwa
- Pantai Way Haru, Bengkunat, 212 km dari Liwa.
Objek wisata budaya dan sejarah
Objek wisata budaya dan sejarah, adanya situs megalitik di Pekon
Purajaya, rumah tradisional di Desa Sukadana, dan berbagai Petilasan
Patih Gajah Mada di Kecamatan Lemong.
Ragam Kesenian
- Pesta Sakura, merupakan pesta topeng yang diadakan tiga hari setelah Hari Raya Idul Fitri,
dimulai sejak jam 09.00 hingga berakhir pada sore hari. Keunikan dari
Pesta Sakura ini dalam acara panjat pinang yang berhadiahkan berbagai
barang yang digantung di puncak batang pinang, para pemanjatnya terdiri
atas beberapa orang pria (kelompok), dan para pemanjat tersebut memakai
topeng serta dengan berbagai busana yang unik, bahkan pria ada di
antaranya yang memakai pakaian wanita. Pesta ini dilaksanakan
- Tari-tarian yang sesuai dengan kondisi alam yang terdiri dari daerah
perhutanan dan lautan, Kabupaten Lampung Barat memiliki aneka ragam
tarian dengan inspirasi dari lingkungan. Keberadaan margasatwa banyak
mengilhami gerakan tari-tarian di daerah Lampung Barat. Di daerah Balik
Bukit terdapat Tari Kenui dan Tari Batin, dua jenis tarian yang
gerakannya meniru burung elang. Tari Batin biasanya dilakukan dalam
rangka menyambut tamu-tamu penting. Acara ini dilaksanakan secara rutin
menyambut HUT Kabupaten Lampung Barat.
Acara Tahunan
- Festival Teluk Stabas, dalam acara ini diadakan perlombaan kesenian
dan budaya tradisional, antara lain: hadra, bedikhir, hahiwang, gambus,
dan Lomba tarian adat tradisional lainnya. Festival ini dijadwalkan
berlangsung pada setiap bulan Juli.
- Semarak Wisata Tanjung Setia. Pada kegiatan ini dilaksanakan
berbagai perlombaan yang bernuansa bahari seperti selancar, kebut
jukung, voli pantai, dan sepakbola pantai. Selain itu ditampilkan
beberapa atraksi kesenian. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada
setiap bulan Juni.
- Gebyar Pesona Lumbok Ranau. Pada kegiatan ini dilaksanakan berbagai
perlombaan yang bernuansa wisata tirta seperti kebut jukung, triatlon
tradisional, memanah ikan, memancing di danau. Selain itu ditampilkan
beberapa atraksi kesenian. Festival ini dijadwalkan berlangsung pada
setiap bulan September.
Pemekaran Daerah
Baerdasarkan UU DOB tanggal 25 Oktober 2012, wilayah
Kabupaten Lampung Barat mengalami pemekaran menjadi dua kabupaten yaitu
Kabupaten Lampung Barat dan
Kabupaten Pesisir Barat
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lampung_Barat
Shared : Putra Lampung